Malu sama matahari, jika hati bersedih karena cela-an pada diri.
Berbicara sesuka hati memang kepuasaan diri. Namun Alangkah lebih baiknya jika kalimat yang terlontar dan melesat ke telinga pendengar, adalah hal yang memang sepantasnya terujar. Terlebih jika nalar lebih dulu berputar ketimbang kata yang terlempar.
Pernah terluka karena sayatan lidah? Jawabnya sering.
Pernah tersadar bahwa tercipta luka di hati yang lemah? Jawabnya mungkin.
Pada banyak hal, kalimat celaan sangat menjurus ke arah kesedihan atau bahkan kemarahan.
Namun tak sedikit hati yang berbahagia atas cela, justru mengubahnya menjadi satu hal yang indah; ialah semangat pembuktian yang nyata.
Terlepas dari karya yang katanya tak seberapa, atau diksi yang tak sempurna dalam aksara, itu bukanlah masalah. Namun bukan berarti selamanya hal itu tidak apa-apa. Jadikanlah ia satu proses pendewasaan dalam berkarya.
Kembali, tetaplah berbahagia sekalipun cela menyapa di depan mata.
Salam santun
Riau 28.12.2014
https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/839324239462802/?notif_t=like