#Rapuh1
“Rapuh yang aku tahu adalah sesuatu yang tak lagi kuat dan utuh. Entah apapun itu …,” ujarku pelan.
Lelaki ini tak juga mau mengalihkan pandangannya dariku. Hari ini ia sudah tiga kali menemuiku, seraya mengantarkan berbagai dokumen yang harus kuperiksa.
“Lalu bagaimana dengan diriku?”
“Apanya yang bagaimana?” tanyaku bingung.
Ia terdiam. Aku masih acuh, masih tak memperdulikannya. Bukan, bukan bermaskud untuk tidak menghargainya, tapi ini sudah yang kesekian kalinya ia berbicara tentang rapuh. Anehnya lagi, ia terus bertanya bagaimana menghilangkan kerapuhan dari hatinya.
“Mengapa bertanya denganku …?” sambungku lagi.
“Tidak bisakah kau rasa bahwa sebab rapuhku adalah dirimu …,” ucapnya sembari pergi meninggalkanku.
Aku terhenyak. Berpikir. Kalimat terakhirnya berhasil memaksa jutaan sel otak untuk mencari jawab.
“Aku! Kenapa aku?”
Bukankah sebab rapuh karena ada sesuatu yang tak lagi kuat dan utuh. Lalu bagaimana mungkin aku menjadi penyebabnya? Sementara aku dan dia bukanlah satu kesatuan.
https://mbasic.facebook.com/groups/488655531196343?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C1477344097
Sabtu, 29 November 2014
Jumat, 21 November 2014
SURAT UNTUK UKHTI
#surat
Teruntuk Ukhti Tercinta
Teruntuk Ukhti Tercinta
Benarkah saya muslimah? Jika iya, sudah benarkah?
Assalamu’alaikum wr. Wb
Ukhti … Apa kabarmu hari ini. Adakah mengenal daku.
Sungguh tidak pun tak mengapa, karena coretan ini akan membawa namamu nantinya di hati.
Ukhti … Adakah yang terlupa. Kata pembuka penuh makna, penyejuk jiwa, lagi perekat ukhuwah. Salam di atas, iya menanti balas.
Jeda 2 detik ... Terima kasih telah membalas ukhti.
Ukhti … Apa kabarmu hari ini. Adakah mengenal daku.
Sungguh tidak pun tak mengapa, karena coretan ini akan membawa namamu nantinya di hati.
Ukhti … Adakah yang terlupa. Kata pembuka penuh makna, penyejuk jiwa, lagi perekat ukhuwah. Salam di atas, iya menanti balas.
Jeda 2 detik ... Terima kasih telah membalas ukhti.
Sempat diri dilema, merenungi tanya di atas.
Sama kah yang kita rasakan?
Mungkin saja sama. Tidak tahu kapan, dimana, dan bagaimana.
Tak menutup kemungkinan tidak sama, sama sekali tidak.
Sama kah yang kita rasakan?
Mungkin saja sama. Tidak tahu kapan, dimana, dan bagaimana.
Tak menutup kemungkinan tidak sama, sama sekali tidak.
Tapi tahukah ukhti…
Sulit bagi diri menjawabnya sendiri.
Bukan, ini bukan curhatan belaka.
Sulit bagi diri menjawabnya sendiri.
Bukan, ini bukan curhatan belaka.
Benarkah saya muslimah?
Tiga kata terangkai tanya. Resah ukhti. Iya benar. Resah sekali.
Tapi tak bisa kubunuh tega tanya tersebut.
Iya meminta hadiah. Memaksa keras pikiran dan hati untuk mencari jawab apa yang akan diberi.
Tiga kata terangkai tanya. Resah ukhti. Iya benar. Resah sekali.
Tapi tak bisa kubunuh tega tanya tersebut.
Iya meminta hadiah. Memaksa keras pikiran dan hati untuk mencari jawab apa yang akan diberi.
Ukhti.. bisakah kita saling merajut kata?
Diri ini belum mampu menjawab dengan sendirinya.
Tunggu ukhti ... tinta belum habis.
Diri ini belum mampu menjawab dengan sendirinya.
Tunggu ukhti ... tinta belum habis.
Maaf ukhti ... ini bukan curahan hati belaka. Sama sekali tidak.
Tanya ini benar. Bagai perisai yang tajam.
Diri tak ingin terbunuh karna tak mampu menjawabnya.
Sementara diri mengaku-ngaku cinta pada-Nya.
Tanya ini benar. Bagai perisai yang tajam.
Diri tak ingin terbunuh karna tak mampu menjawabnya.
Sementara diri mengaku-ngaku cinta pada-Nya.
Ukhti ... coretan ini menunggu balas.
Karena iya yakin, tanya di atas bukan hanya milik jemari ini
Sekalipun tak tertarik pada coretan ini
Bisa jadi tanya kita sama
Karena iya yakin, tanya di atas bukan hanya milik jemari ini
Sekalipun tak tertarik pada coretan ini
Bisa jadi tanya kita sama
Ukhti ... tinta ini menunggu tinta lainnya
Kenapa? Karena ia percaya ukhti, percaya akan ukhuwah
Pun seperti Ukhti ... yang telah menjalankannya di keseharian
Begitupun dengan tanya tadi
Iya meminta kita untuk berukhuwah, agar bisa menghadiahkan rangkai kata indah sebagai jawaban.
Kenapa? Karena ia percaya ukhti, percaya akan ukhuwah
Pun seperti Ukhti ... yang telah menjalankannya di keseharian
Begitupun dengan tanya tadi
Iya meminta kita untuk berukhuwah, agar bisa menghadiahkan rangkai kata indah sebagai jawaban.
Ukhti ... engkau bisa tenang, atau bahkan risau seperti coretan ini.
Tinta sudah hampir habis. Aku harus menyisakannya untuk esok hari.
Tinta sudah hampir habis. Aku harus menyisakannya untuk esok hari.
Ukhti ... saling bantu dan saling ajar lah. Hakikatnya kita lupa.
Lupa atas jawaban, ataupun tak tahu sama sekali.
insyaAllah dengan kita bersama, mengetahui jawaban da menjalankannya lebih indah.
Lupa atas jawaban, ataupun tak tahu sama sekali.
insyaAllah dengan kita bersama, mengetahui jawaban da menjalankannya lebih indah.
Ukhti ... tintaku sudah memberontak, iya tak mau habis disini.
Maka biarlah menunggu balas darimu.
Maka biarlah menunggu balas darimu.
Ukhti ... engkau membaca karena-Nya.
Maka coretan ini pun menunggu balasan darimu atas izin-Nya.
Maka coretan ini pun menunggu balasan darimu atas izin-Nya.
Wassalamu’alaikum wr. wb
Tinta Cinta
Judul: Tinta Cinta
oleh: Nurhidayah Bms
oleh: Nurhidayah Bms
Iffah, gadis yang masih terbungkus mukenah, perlahan menuangkan aksaranya.
“Adalah engkau wahai lelaki. Penikmat syahdu cinta Ilahi. Aku merinduimu dalam doa paling pinta. Ketika pagi menyambut siang, saat sinar mentari mulai padam, pun pada saat jutaan jiwa tertidur dalam pekatnya malam, aku memanggilmu.
Adalah kau Sang Pengembara. Membawa segelas cinta berair agama, di tengah hiruk pikuk dunia. Berbekal sebongkah iman yang kau bungkus pada kain kesetiaan. Memacu langkah pada jalur menuju jannah-Nya. Aku menanti seteguk airmu, agar bertenaga dan dapat berjalan bersamamu dengan tujuan yang sama.
Adalah dirimu, Sang Pendayung perahu doa, yang rela mendayung sendiri tanpa wanita. Jelas itu kau lakukan karena kau percaya, bahwa Allah telah menempatkan seseorang di dermaga. Dan ketika kau berlabuh, semoga aku dapat menjadi pengusap keringatmu yang pertama.”
“Masih menulis, Fa,” ujar seorang wanita yang akhirnya membuat tangan Iffah berhenti mengayunkan pena, menjeda sejenak tinta cintanya.
“Ibu…,”
“Maaf, Fah… tadi ibu sudah mengetuk pintu, tapi kamu tidak membukanya, jadi ibu masuk saja…”
“… Tak apa, Bu…,” Iffah menutup buku hariannya yang penuh dengan goresan rindu.
“Bersabarlah, Nak. Rencana Allah tak ada yang salah… kau masih bersedih?”
“Tidak, Bu…,” jawab Iffah seraya menundukkan kepalanya. Lima detik Iffah terdiam, didetik keenam meneteslah air mata Iffah.
Sesak di dadanya laksana bom yang siap meledak kapan saja. Gundah menahan pilu yang menari-nari. Semua tetangga memacu bibir merah yang tak henti mencibir Iffah. Jodoh, janganlah mencela ketika waktunya belum tiba. Apalagi sampai memberi gelar perawan tua. Gelar itulah yang selalu menggema di sudut-sudut rumah tetangga.
Entah sudah berapa kali hatinya membayangkan sosok lelaki yang belum juga singgah menambatkan hati.
“Bu… apa ada yang bersedia membaca goresan rindu dalam buku harianku kelak?”
“Tentu, Fah. Jodoh tak kenal waktu, itu yang harus kau pegang. Bukankah Allah telah menggariskan semuanya, termasuk perihal jodoh. Bersabarlah, Nak… jangan hiraukan mereka yang menyebutmu perawan tua. Meski usia habis termakan waktu, jika kesucianmu tetap terjaga yakinlah suatu saat Sang Pencipta menghadiahkanmu sesuatu yang indah. Persiapkanlah sapu tangan sakinah untuk jodohmu, juga sajikan mawaddah dan warohmah untuknya…”
“Bu… titip catatan ini. Jika lelaki itu tiba, berilah padanya…,” ucap Iffah seraya menyodorkan buku hariannya pada ibu. Ibu mengangguk kecil, kemudian menerima buku rindu itu sembari memeluk gadis yang sudah tiga puluh tahun ia besarkan.
Kamis, 13 November 2014
HUJAN MENGEJA CINTA
Hujan
Mengeja Cinta
“Hah. Apa
aku tidak salah dengar? Haha..” gadis berjilbab ungu itu tertawa dan bangkit
dari rerumputan yang ia duduki sedari tadi. Vina namanya, wanita berusia dua
puluh tiga tahun yang sedang menatap laut dari atas bukit.
“Biar aku ulangi sekali lagi ya, Nona manis. Cinta
belum tentu jodoh. Jodoh juga belum cinta. Namun jika sudah jodoh, belajarlah
untuk mencinta. Paham?” ujar Lisa untuk kedua kalinya, setelah tadi Vina
mentertawakan penyataannya itu.
Hampir
setiap minggu dua sahabat ini menghabiskan waktu sorenya untuk menyapa senja.
Namun kali berbeda, setelah peristiwa lamaran di rumah Vina tadi pagi, Vina
tampak murung dan tak seceria biasanya. Lisa terus menyemangati Vina sebisa
Lisa. Berkali-kali Lisa menanyakan keputusan apa yang akan di berikan pada
lelaki yang melamar Vina.
“Vin,… kau harus membuka hati” ujar Lisa yang masih
terduduk dan sibuk memainkan ilalang.
“Ya, aku tahu, Lis. Tapi…” tiba-tiba Vina terdiam.
Gemuru dan kilat bersahutan menggelegar.
“Lis, hujan. Ayo!” Vina mengambil tas dan menarik
tangan Lisa dengan cepat.
Dua menit
mereka berlari dan akhirnya sampai di sebuah gubuk kecil. Vina mendekap
tubuhnya. Mengatur nafas yang tak beraturan. Begitupun Lisa, ia keluarkan
handuk kecil dari dalam tas lalu di sodorkannya kepada Vina. Rintik hujan mulai
berjatuhan dari atap gubuk. Sesekali menetes membasahi kepala dua gadis
berjilbab kembar ini.
“Kau masih sangat takut terhadap hujan, Vin?” tanya
Lisa yang memperhatikan muka sahabatanya penuh kecemasan. Vina menggeleng. bibirnya
bergetar dan wajahnya pucat.
“Tidak, Lis”
“Matamu tak bisa membohongiku. Vin, sampai kapan kau
begini?” Vina tak menoleh. Ia tertunduk dan terus memilin ujung jilbabnya.
Peristiwa
tenggelamnya sebuah kapal dua tahun lalulah yang menyebabkan Vina menjadi
seperti ini. Sungguh tragedi yang tak dapat ia lupakan. Pria pelamar cintanya
dulu ikut hilang bersama tenggelamnya kapal tersebut. Insiden itu menyebabkan
pernikahan Vina batal dan mengubah pribadinya yang ceria menjadi seorang
pendiam. Vina yang gemar menebar senyum kini menjelma menjadi gadis pemurung.
“Betapapun peristiwa itu memecah hatimu menjadi
kepingan-kepingan kecewa, Kau harus bangkit, Vin. Harus” Lisa terus melancarkan
jurusnya untuk membangun lagi senyum yang hilang dari wajah manis Vina. Vina
hanya diam. Ada yang menetes dari matanya. Entah itu air hujan atau air yang
berasal dari pelupuk mata. Ia menyeka air itu dan berkata
“Lis. Kau tahu bagaimana detik-detik yang aku
siapkan menyambut hari itu? aku menghabiskannya dengan do’a. aku mengisi hari
dengan segala senyum yang merekah. Tapi apa? Apa kau mengerti bagaimana rasanya
menjadi Vina?
Kini Vina
benar-benar menangis. Matanya memerah. Ia sesenggukkan dan melanjutkan
perkataanya.
Apa kau paham betapa hancurnya aku saat itu. bukan
hanya pernikahanku yang batal, namun pria itu juga tak dapat lagi ku tatap
wajahnya.” Vina menangis sejadi-jadinya. Lisa memeluknya dengan cepat dan
mengusap-usap bahu Vina.
Hujan
seakan menemani tangisan Vina. Kedua sahabat itu kini di rundung pilu. Lisa ternyata
tak begitu kuat menahan air mata yang ingin menyembul keluar. Satu tetes, dua
tetes, Lisapun menangis.
“Sudah, Vin. Tenang. Tenang, Vina!” lisa mencoba
menenangkan meski perasaannya juga berkecamuk. Lisa mengingat peristiwa hujan
yang akhirnya membuat kapal itu tenggelam.
“Vin, kau harus membuka mata. Kau tidak bisa terpaku
pada masa lalu yang kelam itu”
“Tapi, Lis,…”
“Sudah, Vin. Biarkan itu menjadi sejarah hidupmu.
Tuhan telah menyiapkan jodohmu. Lihat lelaki tadi pagi! Bukankah ia pemberani.
Berani memintamu secara tegas kepada kedua orang tuamu. Bukankah itu yang kau
tunggu?”
Lisa berharap Vina mendengar perkataannya dan memikirkannya. Memang
sudah seharusnya masa lalu di tempatkan pada tempatnya. Bukan untuk di genggam
dan terus di bawa kemana-mana. Itulah yang coba di jelaskan Lisa.
Lima
menit mereka terdiam. Perlahan hujanpun mulai mereda. Rerumputan semakin hijau
di terpa air. Lisa berdiri dan melaju dua langkah. Ia julurkan tangan ke udara
untuk memastikan apakah hujan sudah benar-benar reda.
“Sudah reda. Vina, ayo!”ajak Lisa. Vina mendekat dan
tangannya melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Lisa tadi. Vina
mengangguk. Untuk yang kesekian kalinya ia menyeka air mata.
“Vin. Kau mau melangkah kan?” Vina mengangguk.
“Kau mau menerima lelaki itu?” ucap Lisa dengan
lembut. Vina kembali mengangguk. Ia tersenyum. Lisa menarik nafas dalam-dalam
dan tersenyum lebar.
Akhirnya
Vina menikah dengan pria yang ternyata diam-diam mencintai Vina dua tahun ini.
KUPENUHI PANGGILAN CINTAMU
KADO DARI SUGRA
Tidaklah mungkin tercapai angan
tanpa usaha. Pun usaha tidak akan berhasil tanpa do’a dan kehendak-Nya.
Lihatlah seekor Kupu-kupu, ia harus bermetamorfosa hingga ia dapat terbang.
Mulai dari sebuah telur, lalu menjadi ulat, kemudian terbalut kepompong,
barulah ia dapat menerbangkan sayap. Artinya semua butuh proses yang tak mudah.
Butuh waktu hingga Sang Pencipta mengabulkan pinta kita.
Sama halnya akan diriku. Hasrat
rindu pada tanah suci-Nya tak mungkin dapat terbayar jika Ia tak berkehendak. Mulanya
itu hanya sebuah mimpi yang tak pernah kuketahui apa mimpi itu dapat terwujud
atau tidak.
Seorang wanita berusia tiga puluh
tiga tahun, menjanda dengan seorang anak yang kubanggakan. Menyandang profesi
sebagai buruh cuci, siapalah aku. namun jika bukan karena cinta-Nya tentu tidak
bisa aku mensyukuri ini semua.
Inilah kisahku, yang merindukan
tanah suci.
mau tau kelanjtuannya.. yuk baca bukunya..

Assalamualaikum..
Telah Terbit
Buku dari even Kupenuhi Panggilan Cinta-Mu
Kisah Flash Fiction
Judul: Kupenuhi Panggilan CintaMu
ISBN: 978-602-1334-39-3
Penerbit: Pena Indis
Editor: Nitha Ayesha
Layout dan Cover: Fandy Said
Tebal: 143 Halaman
Ukuran: 14 x 20 cm
Harga Umum= 38.000 (Belum termasuk Ongkir)
Harga Kontributor= 33.500 (Belum termasuk Ongkir)
Cara Pesan:
Silakan kirim pesan dengan format:
Nama Pemesan_Judul Buku_Alamat Lengkap + Kode Pos_No. Hp_Jumlah Pesanan
Kirim ke: Inbox Fb Pena Indis, atau No. Hp: 082113883062 (Fandy Said)
No Hp: 081372776220 (Nurhidayah Bms) atau inbox fb: Nurhidayah Bms
Pre Order:
Tanggal 11 November s/d 20 November 2014
Sinopsis Buku:
“Bapak akan naik haji tahun ini dengan biaya ditanggung oleh Bapak Suwito sepenuhnya,” ucap pria yang berada di hadapanku.
Deg! Tiba-tiba jantungku bergemuruh. Sesaat aku terdiam dan menepuk wajahku. Apa ini mimpi?
“Umi, apa Abi sedang mimpi?” kataku sambil memandang istriku.
“Tidak Abi, Allah telah menjawab doa-doa Abi selama ini,” ucap istriku sembari tersenyum.
Subhanallah, begitu cepat Allah menjawab semua pinta kami selama ini. Jika memang Dia sudah berkehendak, bagaimanapun berlikunya jalan yang harus ditempuh pasti akan terwujud.
Ya Rabb, kupenuhi panggilan cinta-Mu.
Kupenuhi Panggilan Cinta-Mu (Yanuari Purnawan)
Kontributor:
Yanuari Purnawan, Zizi Aisyah, Budiyanti Anggit, Lila Sulistyaningsih, Hijrah BillaLogica, Joko Ade Nursiyono, Arial Ratih, Ummi Sakdiah, Nurhidayah Bms, Ghoffar Albab Maarif, Mila jamilah, Arinda Shafa, Rosi Ochiemuh, Tanto Purnomo, Michaelmas, Danu Supriyati, Riky Ramadhani, Mira Randikal, Aris Prasetyo Budi, Tri Gustinah, dan Diniyah Hidayati.
Telah Terbit
Buku dari even Kupenuhi Panggilan Cinta-Mu
Kisah Flash Fiction
Judul: Kupenuhi Panggilan CintaMu
ISBN: 978-602-1334-39-3
Penerbit: Pena Indis
Editor: Nitha Ayesha
Layout dan Cover: Fandy Said
Tebal: 143 Halaman
Ukuran: 14 x 20 cm
Harga Umum= 38.000 (Belum termasuk Ongkir)
Harga Kontributor= 33.500 (Belum termasuk Ongkir)
Cara Pesan:
Silakan kirim pesan dengan format:
Nama Pemesan_Judul Buku_Alamat Lengkap + Kode Pos_No. Hp_Jumlah Pesanan
Kirim ke: Inbox Fb Pena Indis, atau No. Hp: 082113883062 (Fandy Said)
No Hp: 081372776220 (Nurhidayah Bms) atau inbox fb: Nurhidayah Bms
Pre Order:
Tanggal 11 November s/d 20 November 2014
Sinopsis Buku:
“Bapak akan naik haji tahun ini dengan biaya ditanggung oleh Bapak Suwito sepenuhnya,” ucap pria yang berada di hadapanku.
Deg! Tiba-tiba jantungku bergemuruh. Sesaat aku terdiam dan menepuk wajahku. Apa ini mimpi?
“Umi, apa Abi sedang mimpi?” kataku sambil memandang istriku.
“Tidak Abi, Allah telah menjawab doa-doa Abi selama ini,” ucap istriku sembari tersenyum.
Subhanallah, begitu cepat Allah menjawab semua pinta kami selama ini. Jika memang Dia sudah berkehendak, bagaimanapun berlikunya jalan yang harus ditempuh pasti akan terwujud.
Ya Rabb, kupenuhi panggilan cinta-Mu.
Kupenuhi Panggilan Cinta-Mu (Yanuari Purnawan)
Kontributor:
Yanuari Purnawan, Zizi Aisyah, Budiyanti Anggit, Lila Sulistyaningsih, Hijrah BillaLogica, Joko Ade Nursiyono, Arial Ratih, Ummi Sakdiah, Nurhidayah Bms, Ghoffar Albab Maarif, Mila jamilah, Arinda Shafa, Rosi Ochiemuh, Tanto Purnomo, Michaelmas, Danu Supriyati, Riky Ramadhani, Mira Randikal, Aris Prasetyo Budi, Tri Gustinah, dan Diniyah Hidayati.
Selasa, 11 November 2014
CAHAYA BULAN
Judul: Cahaya Bulan
Oleh : Nurhidayah Bms
"Jangan terlalu sibuk menghitung bintang, jika akhirnya bulan terabaikan.
Jangan terlalu sibuk menikmati cahaya bintang, jika cahaya bulan lebih menenangkan."
Kata-kata itu menari hebat di kepala Hasan. Baru saja kakaknya mengirim kalimat tersebut melalui pesan singkat. Hasan terdiam, tubuhnya gemetar. Lima kali ia baca pesan itu. Tak lama kemudian tangannya mengetik huruf demi huruf.
"Apakah yang kakak maksud?"
Pesan terkirim.
Lima menit kemudian, sebuah balasan mendarat di kotak masuknya.
"Jangan terlalu sibuk mewujudkan angan, jika akhirnya orang tua terabaikan.
Jangan terlalu sibuk menikmati kasih sayang dari orang-orang, jika ternyata kasih sayang ayah dan ibu lebih menjanjikan. Bisakah kau hitung sudah berapa kali ibu memintamu pulang. Disini ibu selalu menunggu, namun kau belum juga datang. Delapan tahun sudah, apa kau lupa jalan pulang?
Pulanglah Hasan. Ibu merindukanmu."
Oleh : Nurhidayah Bms
"Jangan terlalu sibuk menghitung bintang, jika akhirnya bulan terabaikan.
Jangan terlalu sibuk menikmati cahaya bintang, jika cahaya bulan lebih menenangkan."
Kata-kata itu menari hebat di kepala Hasan. Baru saja kakaknya mengirim kalimat tersebut melalui pesan singkat. Hasan terdiam, tubuhnya gemetar. Lima kali ia baca pesan itu. Tak lama kemudian tangannya mengetik huruf demi huruf.
"Apakah yang kakak maksud?"
Pesan terkirim.
Lima menit kemudian, sebuah balasan mendarat di kotak masuknya.
"Jangan terlalu sibuk mewujudkan angan, jika akhirnya orang tua terabaikan.
Jangan terlalu sibuk menikmati kasih sayang dari orang-orang, jika ternyata kasih sayang ayah dan ibu lebih menjanjikan. Bisakah kau hitung sudah berapa kali ibu memintamu pulang. Disini ibu selalu menunggu, namun kau belum juga datang. Delapan tahun sudah, apa kau lupa jalan pulang?
Pulanglah Hasan. Ibu merindukanmu."
MATAHARI TENGGELAM
Judul : Matahari Tenggelam
Oleh : Nurhidayah Bms
Malam kian larut, sinar rembulan perlahan redup. Gadis mungil berwajah pucat, terbaring tak berdaya. Ibunya hanya menangis menatap ia yang kian dekat pada Sang Pencipta. Peri kecil itu mengingat percakapan mereka kemarin malam.
“Bun, tolong jujur pada Ica, sebenarnya apa yang membuat Bunda menangis?”
Ica, gadis delapan tahun itu menatap lembut ibu yang tengah menangis. Satu jam sudah ibunya berderai air mata, mengurung diri di dalam kamar. Ternyata ibu tak mampu menyembunyikan isakan tangisnya hingga Ica dapat mendengar tangis pilu dari dalam kamar.
“Katakan, Bun! katakan!”
“Bunda tidak apa-apa, Nak” jawab ibu seraya mengusap lembut kepala Ica. Lalu ia menyeka air mata dan membangun bendungan di pelupuk mata agar tak tertumpa di detik berikutnya.
“Bunda selalu bilang ke Ica kalau Ica gak boleh nangis, kok sekarang bunda nangis?”
Ibunya terdiam. vonis dokter tadi sore membuat jutaan sel di otaknya tak berhenti berfikir. Hatinya juga tak berhenti berdzikir. Pola hidup sehat serta berbagai makanan yang bergizi tidak membuat Ica terbebas dari penyakit yang mematikan.
“Bunda teringat ayah, ya?” tanya Ica. Angin malam menerobos jendela, Ica mendekap ibu , berusaha mencari kehangatan.
“Iya, Nak. Ayahmu itu hebat ya.”
Mendengar kata "Ayah" bendungan di matanya hancur, air mata menetes lagi.
“Bun, lihat bulan itu!,” kata Ica seraya menunjuk bulan di sebalik jendela.
“Ayah pernah bilang, kalau bunda jadi langit, ayah jadi bulan dan Ica lah yang jadi matahari”
Ica tersenyum lebar. Gorden melambai-lambai seakan menjawab kalimatnya. Entah mengapa gadis kecil ini tidak terlihat sedih, padahal ayahnya telah meniggal dunia. Mungkin predikat "Tegar" lah yang pantas ia sandang. Ibu tetap diam dalam sedih yang tak berkesudahan. Ica meneruskan perkataannya.
“Oh iya, Bun. Tadi sore ica dengar apa yang di bilang dokter. Dokter bilang umur ica tidak lama lagi
Aneh-aneh saja ya, Bun. Padahal Ayah pernah bilang kalau umur itu hanya Allah yang tahu.”
Ibu mengangguk, meski air matanya membasahi pipi, ia tetap berusaha melempar senyum kecil pada Ica. Hatinya kian remuk.
“Tapi kalau Ica pergi ikut ayah, berarti bunda sendiri. Berarti matahari dan bulan tidak ada lagi ya, Bun. langitnya gelap donk, Bun.” ujar Ica dengan polos. Ia belum mengerti bahwa yang di katakannya itu sangat sakit di telinga ibunya.
***
Ica tersenyum, kemudian ia berkata
“Bun, jangan sedih. Masih ada cahaya Allah”
Detik waktu menghantar Ica menutup mata.
“Ya Allah, Engkau padamkan matahariku hari ini. Berilah aku seberkas cahaya kesabaran.” ibu berdoa dalam hati.
NB: tulisan ini diikut sertakan dalam event matahari di grup KBM (Komunitas BIsa Menulis)
Oleh : Nurhidayah Bms
Malam kian larut, sinar rembulan perlahan redup. Gadis mungil berwajah pucat, terbaring tak berdaya. Ibunya hanya menangis menatap ia yang kian dekat pada Sang Pencipta. Peri kecil itu mengingat percakapan mereka kemarin malam.
“Bun, tolong jujur pada Ica, sebenarnya apa yang membuat Bunda menangis?”
Ica, gadis delapan tahun itu menatap lembut ibu yang tengah menangis. Satu jam sudah ibunya berderai air mata, mengurung diri di dalam kamar. Ternyata ibu tak mampu menyembunyikan isakan tangisnya hingga Ica dapat mendengar tangis pilu dari dalam kamar.
“Katakan, Bun! katakan!”
“Bunda tidak apa-apa, Nak” jawab ibu seraya mengusap lembut kepala Ica. Lalu ia menyeka air mata dan membangun bendungan di pelupuk mata agar tak tertumpa di detik berikutnya.
“Bunda selalu bilang ke Ica kalau Ica gak boleh nangis, kok sekarang bunda nangis?”
Ibunya terdiam. vonis dokter tadi sore membuat jutaan sel di otaknya tak berhenti berfikir. Hatinya juga tak berhenti berdzikir. Pola hidup sehat serta berbagai makanan yang bergizi tidak membuat Ica terbebas dari penyakit yang mematikan.
“Bunda teringat ayah, ya?” tanya Ica. Angin malam menerobos jendela, Ica mendekap ibu , berusaha mencari kehangatan.
“Iya, Nak. Ayahmu itu hebat ya.”
Mendengar kata "Ayah" bendungan di matanya hancur, air mata menetes lagi.
“Bun, lihat bulan itu!,” kata Ica seraya menunjuk bulan di sebalik jendela.
“Ayah pernah bilang, kalau bunda jadi langit, ayah jadi bulan dan Ica lah yang jadi matahari”
Ica tersenyum lebar. Gorden melambai-lambai seakan menjawab kalimatnya. Entah mengapa gadis kecil ini tidak terlihat sedih, padahal ayahnya telah meniggal dunia. Mungkin predikat "Tegar" lah yang pantas ia sandang. Ibu tetap diam dalam sedih yang tak berkesudahan. Ica meneruskan perkataannya.
“Oh iya, Bun. Tadi sore ica dengar apa yang di bilang dokter. Dokter bilang umur ica tidak lama lagi
Aneh-aneh saja ya, Bun. Padahal Ayah pernah bilang kalau umur itu hanya Allah yang tahu.”
Ibu mengangguk, meski air matanya membasahi pipi, ia tetap berusaha melempar senyum kecil pada Ica. Hatinya kian remuk.
“Tapi kalau Ica pergi ikut ayah, berarti bunda sendiri. Berarti matahari dan bulan tidak ada lagi ya, Bun. langitnya gelap donk, Bun.” ujar Ica dengan polos. Ia belum mengerti bahwa yang di katakannya itu sangat sakit di telinga ibunya.
***
Ica tersenyum, kemudian ia berkata
“Bun, jangan sedih. Masih ada cahaya Allah”
Detik waktu menghantar Ica menutup mata.
“Ya Allah, Engkau padamkan matahariku hari ini. Berilah aku seberkas cahaya kesabaran.” ibu berdoa dalam hati.
NB: tulisan ini diikut sertakan dalam event matahari di grup KBM (Komunitas BIsa Menulis)
Nasehat Ibu
"Nak, cahaya bintang memang indah. Namun jika terlalu banyak, Kau akan celaka, karena cahayanya selalu menggoda. Dari itu tataplah cahaya bulan yang satu. Niscaya kau rasakan cahayanya sampai ke hatimu ..."
"Bu, bukankah aku bisa memilih satu di antara bintang?"
"Bu, bukankah aku bisa memilih satu di antara bintang?"
"... Nak, apa belum sampai ke telingamu perihal Tuhan yang tak pernah memuji bintang ..."
"Ya, Bu, Aku sudah mendengarnya ..."
"Maka dari itu, tataplah bulan penuh cinta. Perihal bintang, nikmatilah ia sekedarnya saja ..."
Bintang: kenikmatan dunia
Bulan: kenikmatan surga
Sabtu, 01 November 2014
Sesal
Judul: Sesal
Oleh: Nurhidayah bms
Waktu terenggut sudah
Kelam melebarkan sayap
Pedih tertera nyata
Kemana kan merangkak
Senyum menikmat asa
Tak paham, juga tak sadar
Melambai tangan, cintaNya terbuang
Penikmat dosa, hantar perih
Sajak gulita merantai waktu
Tersesal penuh Tangispun beku
Habis waktu memasung sesal
Apadaya Tuhan menatap penuh murka
Oleh: Nurhidayah bms
Waktu terenggut sudah
Kelam melebarkan sayap
Pedih tertera nyata
Kemana kan merangkak
Senyum menikmat asa
Tak paham, juga tak sadar
Melambai tangan, cintaNya terbuang
Penikmat dosa, hantar perih
Sajak gulita merantai waktu
Tersesal penuh Tangispun beku
Habis waktu memasung sesal
Apadaya Tuhan menatap penuh murka
Menangislah
Wahai hati ...
Menangislah karena dinding kokoh dosamu yang tak mampu kau runtuhkan
Bersedihlah melihat kepingan imanmu berserakan
Wahai hati ...
Menangislah atas nikmat-Nya yang kau dusta
Nikmat yang terasa walau sering kau cela
Wahai hati ...
Teruslah menangis pada maksiat yang belum bisa kau tinggalkan.
Pada niat-niat salah yang tak terelakan
Mengibalah wahai hati ...
Iba pada diri yang jauh dari Sang Pencipta
Iba pada hati yang masih penuh dusta. Juga dosa yang tidak ataupun sengaja
Menangislah.. Atas luka di hati ayah dan bunda
Menangislah.. Atas kecewa mereka yang kau cipta
Menangislah.. Menangislah dalam taubat nasuha
Dan berjanjilah ...
Tidak akan mengulanginya
Semoga Allah mengampuni dosa yang sudah semesta
Menjaga diri agar tetap di jalan-Nya
Menangislah karena dinding kokoh dosamu yang tak mampu kau runtuhkan
Bersedihlah melihat kepingan imanmu berserakan
Wahai hati ...
Menangislah atas nikmat-Nya yang kau dusta
Nikmat yang terasa walau sering kau cela
Wahai hati ...
Teruslah menangis pada maksiat yang belum bisa kau tinggalkan.
Pada niat-niat salah yang tak terelakan
Mengibalah wahai hati ...
Iba pada diri yang jauh dari Sang Pencipta
Iba pada hati yang masih penuh dusta. Juga dosa yang tidak ataupun sengaja
Menangislah.. Atas luka di hati ayah dan bunda
Menangislah.. Atas kecewa mereka yang kau cipta
Menangislah.. Menangislah dalam taubat nasuha
Dan berjanjilah ...
Tidak akan mengulanginya
Semoga Allah mengampuni dosa yang sudah semesta
Menjaga diri agar tetap di jalan-Nya
IMAN
Iman. Inilah satu yang menjadi kunci segalanya. Bagaimanapun ia selalu bergerak. Terkadang membentuk garis horizontal. Ia hanya datar. Kemudian merasa nyaman pada posisinya. Tapi sering juga bergerak vertikal. Naik ke atas. Saat hati khusuk mencinta dalam ibadah. Semangat untuk terus menambah keimanannya. Namun tak bisa di pungkiri, bahwa vertikal bukan hanya naik ke atas. Namun gari tegak yang bisa juga dari atas ke bawah. Artinya iman mulai melemah. Dimana amalan-amalan baik tak lagi menghiasi hari. Justru kenikmatan dunia yang menenangkan hati.
Inilah iman.
Kadarnya berubah-ubah. Dari itu pentinglah untuk kita menjaganya. Terus memuhasabah atas apa yang dirasa dalam hati juga yang terbukti dalam tindakan.
Teruslah berkumpul dengan orang-orang sholeh. Teruslah berbuat ma'ruf, dan tinggalkan yang munkar.
Semoga Allah sang Maha Pembolak-balik hati, menetapkan hati kita agar tetap istiqomah dalam iman dan taqwa.
Aamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)