Hujan
Mengeja Cinta
“Hah. Apa
aku tidak salah dengar? Haha..” gadis berjilbab ungu itu tertawa dan bangkit
dari rerumputan yang ia duduki sedari tadi. Vina namanya, wanita berusia dua
puluh tiga tahun yang sedang menatap laut dari atas bukit.
“Biar aku ulangi sekali lagi ya, Nona manis. Cinta
belum tentu jodoh. Jodoh juga belum cinta. Namun jika sudah jodoh, belajarlah
untuk mencinta. Paham?” ujar Lisa untuk kedua kalinya, setelah tadi Vina
mentertawakan penyataannya itu.
Hampir
setiap minggu dua sahabat ini menghabiskan waktu sorenya untuk menyapa senja.
Namun kali berbeda, setelah peristiwa lamaran di rumah Vina tadi pagi, Vina
tampak murung dan tak seceria biasanya. Lisa terus menyemangati Vina sebisa
Lisa. Berkali-kali Lisa menanyakan keputusan apa yang akan di berikan pada
lelaki yang melamar Vina.
“Vin,… kau harus membuka hati” ujar Lisa yang masih
terduduk dan sibuk memainkan ilalang.
“Ya, aku tahu, Lis. Tapi…” tiba-tiba Vina terdiam.
Gemuru dan kilat bersahutan menggelegar.
“Lis, hujan. Ayo!” Vina mengambil tas dan menarik
tangan Lisa dengan cepat.
Dua menit
mereka berlari dan akhirnya sampai di sebuah gubuk kecil. Vina mendekap
tubuhnya. Mengatur nafas yang tak beraturan. Begitupun Lisa, ia keluarkan
handuk kecil dari dalam tas lalu di sodorkannya kepada Vina. Rintik hujan mulai
berjatuhan dari atap gubuk. Sesekali menetes membasahi kepala dua gadis
berjilbab kembar ini.
“Kau masih sangat takut terhadap hujan, Vin?” tanya
Lisa yang memperhatikan muka sahabatanya penuh kecemasan. Vina menggeleng. bibirnya
bergetar dan wajahnya pucat.
“Tidak, Lis”
“Matamu tak bisa membohongiku. Vin, sampai kapan kau
begini?” Vina tak menoleh. Ia tertunduk dan terus memilin ujung jilbabnya.
Peristiwa
tenggelamnya sebuah kapal dua tahun lalulah yang menyebabkan Vina menjadi
seperti ini. Sungguh tragedi yang tak dapat ia lupakan. Pria pelamar cintanya
dulu ikut hilang bersama tenggelamnya kapal tersebut. Insiden itu menyebabkan
pernikahan Vina batal dan mengubah pribadinya yang ceria menjadi seorang
pendiam. Vina yang gemar menebar senyum kini menjelma menjadi gadis pemurung.
“Betapapun peristiwa itu memecah hatimu menjadi
kepingan-kepingan kecewa, Kau harus bangkit, Vin. Harus” Lisa terus melancarkan
jurusnya untuk membangun lagi senyum yang hilang dari wajah manis Vina. Vina
hanya diam. Ada yang menetes dari matanya. Entah itu air hujan atau air yang
berasal dari pelupuk mata. Ia menyeka air itu dan berkata
“Lis. Kau tahu bagaimana detik-detik yang aku
siapkan menyambut hari itu? aku menghabiskannya dengan do’a. aku mengisi hari
dengan segala senyum yang merekah. Tapi apa? Apa kau mengerti bagaimana rasanya
menjadi Vina?
Kini Vina
benar-benar menangis. Matanya memerah. Ia sesenggukkan dan melanjutkan
perkataanya.
Apa kau paham betapa hancurnya aku saat itu. bukan
hanya pernikahanku yang batal, namun pria itu juga tak dapat lagi ku tatap
wajahnya.” Vina menangis sejadi-jadinya. Lisa memeluknya dengan cepat dan
mengusap-usap bahu Vina.
Hujan
seakan menemani tangisan Vina. Kedua sahabat itu kini di rundung pilu. Lisa ternyata
tak begitu kuat menahan air mata yang ingin menyembul keluar. Satu tetes, dua
tetes, Lisapun menangis.
“Sudah, Vin. Tenang. Tenang, Vina!” lisa mencoba
menenangkan meski perasaannya juga berkecamuk. Lisa mengingat peristiwa hujan
yang akhirnya membuat kapal itu tenggelam.
“Vin, kau harus membuka mata. Kau tidak bisa terpaku
pada masa lalu yang kelam itu”
“Tapi, Lis,…”
“Sudah, Vin. Biarkan itu menjadi sejarah hidupmu.
Tuhan telah menyiapkan jodohmu. Lihat lelaki tadi pagi! Bukankah ia pemberani.
Berani memintamu secara tegas kepada kedua orang tuamu. Bukankah itu yang kau
tunggu?”
Lisa berharap Vina mendengar perkataannya dan memikirkannya. Memang
sudah seharusnya masa lalu di tempatkan pada tempatnya. Bukan untuk di genggam
dan terus di bawa kemana-mana. Itulah yang coba di jelaskan Lisa.
Lima
menit mereka terdiam. Perlahan hujanpun mulai mereda. Rerumputan semakin hijau
di terpa air. Lisa berdiri dan melaju dua langkah. Ia julurkan tangan ke udara
untuk memastikan apakah hujan sudah benar-benar reda.
“Sudah reda. Vina, ayo!”ajak Lisa. Vina mendekat dan
tangannya melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Lisa tadi. Vina
mengangguk. Untuk yang kesekian kalinya ia menyeka air mata.
“Vin. Kau mau melangkah kan?” Vina mengangguk.
“Kau mau menerima lelaki itu?” ucap Lisa dengan
lembut. Vina kembali mengangguk. Ia tersenyum. Lisa menarik nafas dalam-dalam
dan tersenyum lebar.
Akhirnya
Vina menikah dengan pria yang ternyata diam-diam mencintai Vina dua tahun ini.
Asiiik! Kereen!
BalasHapusHehe :D
:D terimakasih dik alifah sudah mampir #salam ukhuwah :)
BalasHapus