Kamis, 13 November 2014

HUJAN MENGEJA CINTA

Hujan Mengeja Cinta

      “Hah. Apa aku tidak salah dengar? Haha..” gadis berjilbab ungu itu tertawa dan bangkit dari rerumputan yang ia duduki sedari tadi. Vina namanya, wanita berusia dua puluh tiga tahun yang sedang menatap laut dari atas bukit.

“Biar aku ulangi sekali lagi ya, Nona manis. Cinta belum tentu jodoh. Jodoh juga belum cinta. Namun jika sudah jodoh, belajarlah untuk mencinta. Paham?” ujar Lisa untuk kedua kalinya, setelah tadi Vina mentertawakan penyataannya itu.

      Hampir setiap minggu dua sahabat ini menghabiskan waktu sorenya untuk menyapa senja. Namun kali berbeda, setelah peristiwa lamaran di rumah Vina tadi pagi, Vina tampak murung dan tak seceria biasanya. Lisa terus menyemangati Vina sebisa Lisa. Berkali-kali Lisa menanyakan keputusan apa yang akan di berikan pada lelaki yang melamar Vina.

“Vin,… kau harus membuka hati” ujar Lisa yang masih terduduk dan sibuk memainkan ilalang.

“Ya, aku tahu, Lis. Tapi…” tiba-tiba Vina terdiam. Gemuru dan kilat bersahutan menggelegar.

“Lis, hujan. Ayo!” Vina mengambil tas dan menarik tangan Lisa dengan cepat.

      Dua menit mereka berlari dan akhirnya sampai di sebuah gubuk kecil. Vina mendekap tubuhnya. Mengatur nafas yang tak beraturan. Begitupun Lisa, ia keluarkan handuk kecil dari dalam tas lalu di sodorkannya kepada Vina. Rintik hujan mulai berjatuhan dari atap gubuk. Sesekali menetes membasahi kepala dua gadis berjilbab kembar ini.

“Kau masih sangat takut terhadap hujan, Vin?” tanya Lisa yang memperhatikan muka sahabatanya penuh kecemasan. Vina menggeleng. bibirnya bergetar dan wajahnya pucat.

“Tidak, Lis”

“Matamu tak bisa membohongiku. Vin, sampai kapan kau begini?” Vina tak menoleh. Ia tertunduk dan terus memilin ujung jilbabnya.

      Peristiwa tenggelamnya sebuah kapal dua tahun lalulah yang menyebabkan Vina menjadi seperti ini. Sungguh tragedi yang tak dapat ia lupakan. Pria pelamar cintanya dulu ikut hilang bersama tenggelamnya kapal tersebut. Insiden itu menyebabkan pernikahan Vina batal dan mengubah pribadinya yang ceria menjadi seorang pendiam. Vina yang gemar menebar senyum kini menjelma menjadi gadis pemurung.

“Betapapun peristiwa itu memecah hatimu menjadi kepingan-kepingan kecewa, Kau harus bangkit, Vin. Harus” Lisa terus melancarkan jurusnya untuk membangun lagi senyum yang hilang dari wajah manis Vina. Vina hanya diam. Ada yang menetes dari matanya. Entah itu air hujan atau air yang berasal dari pelupuk mata. Ia menyeka air itu dan berkata

“Lis. Kau tahu bagaimana detik-detik yang aku siapkan menyambut hari itu? aku menghabiskannya dengan do’a. aku mengisi hari dengan segala senyum yang merekah. Tapi apa? Apa kau mengerti bagaimana rasanya menjadi Vina?

      Kini Vina benar-benar menangis. Matanya memerah. Ia sesenggukkan dan melanjutkan perkataanya.
Apa kau paham betapa hancurnya aku saat itu. bukan hanya pernikahanku yang batal, namun pria itu juga tak dapat lagi ku tatap wajahnya.” Vina menangis sejadi-jadinya. Lisa memeluknya dengan cepat dan mengusap-usap bahu Vina.

      Hujan seakan menemani tangisan Vina. Kedua sahabat itu kini di rundung pilu. Lisa ternyata tak begitu kuat menahan air mata yang ingin menyembul keluar. Satu tetes, dua tetes, Lisapun menangis.
“Sudah, Vin. Tenang. Tenang, Vina!” lisa mencoba menenangkan meski perasaannya juga berkecamuk. Lisa mengingat peristiwa hujan yang akhirnya membuat kapal itu tenggelam.

“Vin, kau harus membuka mata. Kau tidak bisa terpaku pada masa lalu yang kelam itu”

“Tapi, Lis,…”

“Sudah, Vin. Biarkan itu menjadi sejarah hidupmu. Tuhan telah menyiapkan jodohmu. Lihat lelaki tadi pagi! Bukankah ia pemberani. Berani memintamu secara tegas kepada kedua orang tuamu. Bukankah itu yang kau tunggu?” 
Lisa berharap Vina mendengar perkataannya dan memikirkannya. Memang sudah seharusnya masa lalu di tempatkan pada tempatnya. Bukan untuk di genggam dan terus di bawa kemana-mana. Itulah yang coba di jelaskan Lisa.

      Lima menit mereka terdiam. Perlahan hujanpun mulai mereda. Rerumputan semakin hijau di terpa air. Lisa berdiri dan melaju dua langkah. Ia julurkan tangan ke udara untuk memastikan apakah hujan sudah benar-benar reda.

“Sudah reda. Vina, ayo!”ajak Lisa. Vina mendekat dan tangannya melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Lisa tadi. Vina mengangguk. Untuk yang kesekian kalinya ia menyeka air mata.

“Vin. Kau mau melangkah kan?” Vina mengangguk.

“Kau mau menerima lelaki itu?” ucap Lisa dengan lembut. Vina kembali mengangguk. Ia tersenyum. Lisa menarik nafas dalam-dalam dan tersenyum lebar.

      Akhirnya Vina menikah dengan pria yang ternyata diam-diam mencintai Vina dua tahun ini.

2 komentar: