Judul: Tinta Cinta
oleh: Nurhidayah Bms
oleh: Nurhidayah Bms
Iffah, gadis yang masih terbungkus mukenah, perlahan menuangkan aksaranya.
“Adalah engkau wahai lelaki. Penikmat syahdu cinta Ilahi. Aku merinduimu dalam doa paling pinta. Ketika pagi menyambut siang, saat sinar mentari mulai padam, pun pada saat jutaan jiwa tertidur dalam pekatnya malam, aku memanggilmu.
Adalah kau Sang Pengembara. Membawa segelas cinta berair agama, di tengah hiruk pikuk dunia. Berbekal sebongkah iman yang kau bungkus pada kain kesetiaan. Memacu langkah pada jalur menuju jannah-Nya. Aku menanti seteguk airmu, agar bertenaga dan dapat berjalan bersamamu dengan tujuan yang sama.
Adalah dirimu, Sang Pendayung perahu doa, yang rela mendayung sendiri tanpa wanita. Jelas itu kau lakukan karena kau percaya, bahwa Allah telah menempatkan seseorang di dermaga. Dan ketika kau berlabuh, semoga aku dapat menjadi pengusap keringatmu yang pertama.”
“Masih menulis, Fa,” ujar seorang wanita yang akhirnya membuat tangan Iffah berhenti mengayunkan pena, menjeda sejenak tinta cintanya.
“Ibu…,”
“Maaf, Fah… tadi ibu sudah mengetuk pintu, tapi kamu tidak membukanya, jadi ibu masuk saja…”
“… Tak apa, Bu…,” Iffah menutup buku hariannya yang penuh dengan goresan rindu.
“Bersabarlah, Nak. Rencana Allah tak ada yang salah… kau masih bersedih?”
“Tidak, Bu…,” jawab Iffah seraya menundukkan kepalanya. Lima detik Iffah terdiam, didetik keenam meneteslah air mata Iffah.
Sesak di dadanya laksana bom yang siap meledak kapan saja. Gundah menahan pilu yang menari-nari. Semua tetangga memacu bibir merah yang tak henti mencibir Iffah. Jodoh, janganlah mencela ketika waktunya belum tiba. Apalagi sampai memberi gelar perawan tua. Gelar itulah yang selalu menggema di sudut-sudut rumah tetangga.
Entah sudah berapa kali hatinya membayangkan sosok lelaki yang belum juga singgah menambatkan hati.
“Bu… apa ada yang bersedia membaca goresan rindu dalam buku harianku kelak?”
“Tentu, Fah. Jodoh tak kenal waktu, itu yang harus kau pegang. Bukankah Allah telah menggariskan semuanya, termasuk perihal jodoh. Bersabarlah, Nak… jangan hiraukan mereka yang menyebutmu perawan tua. Meski usia habis termakan waktu, jika kesucianmu tetap terjaga yakinlah suatu saat Sang Pencipta menghadiahkanmu sesuatu yang indah. Persiapkanlah sapu tangan sakinah untuk jodohmu, juga sajikan mawaddah dan warohmah untuknya…”
“Bu… titip catatan ini. Jika lelaki itu tiba, berilah padanya…,” ucap Iffah seraya menyodorkan buku hariannya pada ibu. Ibu mengangguk kecil, kemudian menerima buku rindu itu sembari memeluk gadis yang sudah tiga puluh tahun ia besarkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar