Judul : Matahari Tenggelam
Oleh : Nurhidayah Bms
Malam kian larut, sinar rembulan perlahan redup. Gadis mungil berwajah pucat, terbaring tak berdaya. Ibunya hanya menangis menatap ia yang kian dekat pada Sang Pencipta. Peri kecil itu mengingat percakapan mereka kemarin malam.
“Bun, tolong jujur pada Ica, sebenarnya apa yang membuat Bunda menangis?”
Ica, gadis delapan tahun itu menatap lembut ibu yang tengah menangis. Satu jam sudah ibunya berderai air mata, mengurung diri di dalam kamar. Ternyata ibu tak mampu menyembunyikan isakan tangisnya hingga Ica dapat mendengar tangis pilu dari dalam kamar.
“Katakan, Bun! katakan!”
“Bunda tidak apa-apa, Nak” jawab ibu seraya mengusap lembut kepala Ica. Lalu ia menyeka air mata dan membangun bendungan di pelupuk mata agar tak tertumpa di detik berikutnya.
“Bunda selalu bilang ke Ica kalau Ica gak boleh nangis, kok sekarang bunda nangis?”
Ibunya terdiam. vonis dokter tadi sore membuat jutaan sel di otaknya tak berhenti berfikir. Hatinya juga tak berhenti berdzikir. Pola hidup sehat serta berbagai makanan yang bergizi tidak membuat Ica terbebas dari penyakit yang mematikan.
“Bunda teringat ayah, ya?” tanya Ica. Angin malam menerobos jendela, Ica mendekap ibu , berusaha mencari kehangatan.
“Iya, Nak. Ayahmu itu hebat ya.”
Mendengar kata "Ayah" bendungan di matanya hancur, air mata menetes lagi.
“Bun, lihat bulan itu!,” kata Ica seraya menunjuk bulan di sebalik jendela.
“Ayah pernah bilang, kalau bunda jadi langit, ayah jadi bulan dan Ica lah yang jadi matahari”
Ica tersenyum lebar. Gorden melambai-lambai seakan menjawab kalimatnya. Entah mengapa gadis kecil ini tidak terlihat sedih, padahal ayahnya telah meniggal dunia. Mungkin predikat "Tegar" lah yang pantas ia sandang. Ibu tetap diam dalam sedih yang tak berkesudahan. Ica meneruskan perkataannya.
“Oh iya, Bun. Tadi sore ica dengar apa yang di bilang dokter. Dokter bilang umur ica tidak lama lagi
Aneh-aneh saja ya, Bun. Padahal Ayah pernah bilang kalau umur itu hanya Allah yang tahu.”
Ibu mengangguk, meski air matanya membasahi pipi, ia tetap berusaha melempar senyum kecil pada Ica. Hatinya kian remuk.
“Tapi kalau Ica pergi ikut ayah, berarti bunda sendiri. Berarti matahari dan bulan tidak ada lagi ya, Bun. langitnya gelap donk, Bun.” ujar Ica dengan polos. Ia belum mengerti bahwa yang di katakannya itu sangat sakit di telinga ibunya.
***
Ica tersenyum, kemudian ia berkata
“Bun, jangan sedih. Masih ada cahaya Allah”
Detik waktu menghantar Ica menutup mata.
“Ya Allah, Engkau padamkan matahariku hari ini. Berilah aku seberkas cahaya kesabaran.” ibu berdoa dalam hati.
NB: tulisan ini diikut sertakan dalam event matahari di grup KBM (Komunitas BIsa Menulis)
Oleh : Nurhidayah Bms
Malam kian larut, sinar rembulan perlahan redup. Gadis mungil berwajah pucat, terbaring tak berdaya. Ibunya hanya menangis menatap ia yang kian dekat pada Sang Pencipta. Peri kecil itu mengingat percakapan mereka kemarin malam.
“Bun, tolong jujur pada Ica, sebenarnya apa yang membuat Bunda menangis?”
Ica, gadis delapan tahun itu menatap lembut ibu yang tengah menangis. Satu jam sudah ibunya berderai air mata, mengurung diri di dalam kamar. Ternyata ibu tak mampu menyembunyikan isakan tangisnya hingga Ica dapat mendengar tangis pilu dari dalam kamar.
“Katakan, Bun! katakan!”
“Bunda tidak apa-apa, Nak” jawab ibu seraya mengusap lembut kepala Ica. Lalu ia menyeka air mata dan membangun bendungan di pelupuk mata agar tak tertumpa di detik berikutnya.
“Bunda selalu bilang ke Ica kalau Ica gak boleh nangis, kok sekarang bunda nangis?”
Ibunya terdiam. vonis dokter tadi sore membuat jutaan sel di otaknya tak berhenti berfikir. Hatinya juga tak berhenti berdzikir. Pola hidup sehat serta berbagai makanan yang bergizi tidak membuat Ica terbebas dari penyakit yang mematikan.
“Bunda teringat ayah, ya?” tanya Ica. Angin malam menerobos jendela, Ica mendekap ibu , berusaha mencari kehangatan.
“Iya, Nak. Ayahmu itu hebat ya.”
Mendengar kata "Ayah" bendungan di matanya hancur, air mata menetes lagi.
“Bun, lihat bulan itu!,” kata Ica seraya menunjuk bulan di sebalik jendela.
“Ayah pernah bilang, kalau bunda jadi langit, ayah jadi bulan dan Ica lah yang jadi matahari”
Ica tersenyum lebar. Gorden melambai-lambai seakan menjawab kalimatnya. Entah mengapa gadis kecil ini tidak terlihat sedih, padahal ayahnya telah meniggal dunia. Mungkin predikat "Tegar" lah yang pantas ia sandang. Ibu tetap diam dalam sedih yang tak berkesudahan. Ica meneruskan perkataannya.
“Oh iya, Bun. Tadi sore ica dengar apa yang di bilang dokter. Dokter bilang umur ica tidak lama lagi
Aneh-aneh saja ya, Bun. Padahal Ayah pernah bilang kalau umur itu hanya Allah yang tahu.”
Ibu mengangguk, meski air matanya membasahi pipi, ia tetap berusaha melempar senyum kecil pada Ica. Hatinya kian remuk.
“Tapi kalau Ica pergi ikut ayah, berarti bunda sendiri. Berarti matahari dan bulan tidak ada lagi ya, Bun. langitnya gelap donk, Bun.” ujar Ica dengan polos. Ia belum mengerti bahwa yang di katakannya itu sangat sakit di telinga ibunya.
***
Ica tersenyum, kemudian ia berkata
“Bun, jangan sedih. Masih ada cahaya Allah”
Detik waktu menghantar Ica menutup mata.
“Ya Allah, Engkau padamkan matahariku hari ini. Berilah aku seberkas cahaya kesabaran.” ibu berdoa dalam hati.
NB: tulisan ini diikut sertakan dalam event matahari di grup KBM (Komunitas BIsa Menulis)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar