#surat
Teruntuk Ukhti Tercinta
Teruntuk Ukhti Tercinta
Benarkah saya muslimah? Jika iya, sudah benarkah?
Assalamu’alaikum wr. Wb
Ukhti … Apa kabarmu hari ini. Adakah mengenal daku.
Sungguh tidak pun tak mengapa, karena coretan ini akan membawa namamu nantinya di hati.
Ukhti … Adakah yang terlupa. Kata pembuka penuh makna, penyejuk jiwa, lagi perekat ukhuwah. Salam di atas, iya menanti balas.
Jeda 2 detik ... Terima kasih telah membalas ukhti.
Ukhti … Apa kabarmu hari ini. Adakah mengenal daku.
Sungguh tidak pun tak mengapa, karena coretan ini akan membawa namamu nantinya di hati.
Ukhti … Adakah yang terlupa. Kata pembuka penuh makna, penyejuk jiwa, lagi perekat ukhuwah. Salam di atas, iya menanti balas.
Jeda 2 detik ... Terima kasih telah membalas ukhti.
Sempat diri dilema, merenungi tanya di atas.
Sama kah yang kita rasakan?
Mungkin saja sama. Tidak tahu kapan, dimana, dan bagaimana.
Tak menutup kemungkinan tidak sama, sama sekali tidak.
Sama kah yang kita rasakan?
Mungkin saja sama. Tidak tahu kapan, dimana, dan bagaimana.
Tak menutup kemungkinan tidak sama, sama sekali tidak.
Tapi tahukah ukhti…
Sulit bagi diri menjawabnya sendiri.
Bukan, ini bukan curhatan belaka.
Sulit bagi diri menjawabnya sendiri.
Bukan, ini bukan curhatan belaka.
Benarkah saya muslimah?
Tiga kata terangkai tanya. Resah ukhti. Iya benar. Resah sekali.
Tapi tak bisa kubunuh tega tanya tersebut.
Iya meminta hadiah. Memaksa keras pikiran dan hati untuk mencari jawab apa yang akan diberi.
Tiga kata terangkai tanya. Resah ukhti. Iya benar. Resah sekali.
Tapi tak bisa kubunuh tega tanya tersebut.
Iya meminta hadiah. Memaksa keras pikiran dan hati untuk mencari jawab apa yang akan diberi.
Ukhti.. bisakah kita saling merajut kata?
Diri ini belum mampu menjawab dengan sendirinya.
Tunggu ukhti ... tinta belum habis.
Diri ini belum mampu menjawab dengan sendirinya.
Tunggu ukhti ... tinta belum habis.
Maaf ukhti ... ini bukan curahan hati belaka. Sama sekali tidak.
Tanya ini benar. Bagai perisai yang tajam.
Diri tak ingin terbunuh karna tak mampu menjawabnya.
Sementara diri mengaku-ngaku cinta pada-Nya.
Tanya ini benar. Bagai perisai yang tajam.
Diri tak ingin terbunuh karna tak mampu menjawabnya.
Sementara diri mengaku-ngaku cinta pada-Nya.
Ukhti ... coretan ini menunggu balas.
Karena iya yakin, tanya di atas bukan hanya milik jemari ini
Sekalipun tak tertarik pada coretan ini
Bisa jadi tanya kita sama
Karena iya yakin, tanya di atas bukan hanya milik jemari ini
Sekalipun tak tertarik pada coretan ini
Bisa jadi tanya kita sama
Ukhti ... tinta ini menunggu tinta lainnya
Kenapa? Karena ia percaya ukhti, percaya akan ukhuwah
Pun seperti Ukhti ... yang telah menjalankannya di keseharian
Begitupun dengan tanya tadi
Iya meminta kita untuk berukhuwah, agar bisa menghadiahkan rangkai kata indah sebagai jawaban.
Kenapa? Karena ia percaya ukhti, percaya akan ukhuwah
Pun seperti Ukhti ... yang telah menjalankannya di keseharian
Begitupun dengan tanya tadi
Iya meminta kita untuk berukhuwah, agar bisa menghadiahkan rangkai kata indah sebagai jawaban.
Ukhti ... engkau bisa tenang, atau bahkan risau seperti coretan ini.
Tinta sudah hampir habis. Aku harus menyisakannya untuk esok hari.
Tinta sudah hampir habis. Aku harus menyisakannya untuk esok hari.
Ukhti ... saling bantu dan saling ajar lah. Hakikatnya kita lupa.
Lupa atas jawaban, ataupun tak tahu sama sekali.
insyaAllah dengan kita bersama, mengetahui jawaban da menjalankannya lebih indah.
Lupa atas jawaban, ataupun tak tahu sama sekali.
insyaAllah dengan kita bersama, mengetahui jawaban da menjalankannya lebih indah.
Ukhti ... tintaku sudah memberontak, iya tak mau habis disini.
Maka biarlah menunggu balas darimu.
Maka biarlah menunggu balas darimu.
Ukhti ... engkau membaca karena-Nya.
Maka coretan ini pun menunggu balasan darimu atas izin-Nya.
Maka coretan ini pun menunggu balasan darimu atas izin-Nya.
Wassalamu’alaikum wr. wb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar